Home » Hikmah » Nasehat » Tentang Celana Cingkrang or Ngatung
Celana cingkrang
source:ldiikabbandung.blogspot.com

Tentang Celana Cingkrang or Ngatung

Celana cingkrang
source:ldiikabbandung.blogspot.com

Celana cingkrang or Ngatung

“Eh, kenapa sih warga LDII laki-lakinya kalau bercelana atau bersarung suka cingkrang?” Kira-kira begitu yang sering terdengar takala seseorang berkomentar mengenai cara berpakaian warga LDII yang hampir setiap hari mengadakan kajian baik Al Qur’an maupun Al Hadits ini.

Tidak jarang beberapa orang yang dengan nada enteng dengan setengah mencibir berkata “Mas, kebanjiran ya? Apa takut cacing”, namun bagi warga LDII sindiran-sindiran semacam itu sudah biasa, warga LDII sangat memaklumi bahwa tidak semua orang tahu dan faham untuk mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Boleh jadi ada yang tahu mengenai hukum berpakaian tetapi untuk faham dan berani mengamalkannya adalah sesuatu yang berbeda.

Warga LDII dalam mengkaji hukum-hukum tersebut tidak cukup sebatas sampai tahu saja tetapi benar-benar difahami dan diamalkan, dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga dengan hukum berpakaian ini.

Dari Ibnu Umar ra, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar rabertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Al Bukhari dan sebagiannya diriwayatkan Muslim)

Hadits ini yang banyak dijadikan hujjah untuk boleh bercelana nglembreh; yang penting tidak sombong. Padahal kalau mau lebih cermat lagi, kunci hadits di atas adalah perkataan Abu Bakar menyingsingkan. Namun kalau masih bersikukuh asal tidak sombong bolehlah. Daripada bertengkar, coba kita tengok yang satu ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Suatu ketika ada seseorang shalat dengan memanjangkan kain sampai di bawah mata kaki. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, “Pergilah dan berwudhulah.” Lalu ia pergi dan berwudhu. Kemudian ia datang dan Nabi bersabda, “Pergilah dan berwudhulah.” Kemudian ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau, “Ya Rasulallah, kenapa Anda menyuruhnya untuk berwudhu lalu Anda diamkan?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki; Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki.” (HR. Abu Dawud dengan isnad Shahih sesuai syarat Muslim)

Nah, kalau sholatnya tidak diterima karena celana nglembreh, terus bagaimana? Padahal semua tahukan, sholat adalah amalan paling pol dan pertama ditanya nanti di hari Qiyamat. Gara – gara kita memakai pakaian nglembreh terus sholat gak diterima, wassalam sudah. Bagi yang penasaran boleh juga membaca komentar Imam al-Buwaithi dari al-Syafi’i dalam Mukhtasharnya. Ia berkata, “Isbal dalam shalat maupun di luar shalat karena sombong dan karena sebab lainnya tidak diperbolehkan. Ini didasarkan pada perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu.” Wuih teges banget imam ini. Di sudut sana ada yang berkilah, kan kalau sholat dilinting (dinaikkan) celananya? Baik, kita baca yang satu ini.

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda,”Kain (sarung/pakaian) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika ada di antara betis dan dua mata kaki. Adapun yang sampai di bawah kedua mata kaki, maka ia berada di neraka. Siapa yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya.” (HR. Abu Dawud dengan isnad shahih)
Berhubung hadits ini masih ada kata – kata sombong, maka terkesan kurang afdhol. Karena akan mirip dengan yang atas. Sekarang kita simak yang singkat ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda,”Apa-apa yang berada di bawah mati kaki itu berada dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari).

Nah, kalau tiga hadits ini belum menyentuh hati, ya sudah. Gak apa – apa. Hidup adalah pilihan, dalam arti semua nanti akan dipertanggungjawabkan masing – masing. Tidak perlu kita geger masalah cingkrang ini, cukup tahu sama tahu. Kalau mau mengikuti ya syukur, kalau tidak ya diri sendirilah yang menentukan. Bahkan Imam Muslim dalah Shahihnya menerangkan dengan tegas larangan/haramnya isbal (menjulurkan kain di bawah mati kaki) ini.
“Bab: Keterangan beratnya keharaman menjulurkan kain (di bawah mata kaki;- disebut Isbal-), mengungkit-ungkit pemberian, menjual barang dagangan dengan sumpah palsu adalah tiga golongan yang mereka tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka dan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih.”

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Tiga orang yang bakal tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat dan menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membacanya sebanyak tiga kali”. Abu Dzar berkata, “Kecewa benar mereka dan sangat merugi. Siapakah mereka itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang menurunkan kain di bawah mata kaki (musbil), orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (al-Mannan), dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

source:ldii.or.id

One comment

  1. gaul itu kalau pakai celana cingkrang.

Leave Your Comment