Home » Hikmah » Nasehat » TELUNJUK LURUS KELINGKING BERKAIT

TELUNJUK LURUS KELINGKING BERKAIT

TELUNJUK LURUS KELINGKING BERKAIT

Familiar, kan? Itu adalah peribahasa yang diajarkan guru kita dulu untuk dihafal, berikut dengan maknanya. Bahkan, untuk meyakinkan supaya mengingatnya, kita ‘diancam’ akan muncul saat ulangan. Maka, hafallah kita hingga kini, bahkan setelah bertahun-tahun lewat.

Meski mudah dihafal dan dimengerti, faktanya  tidak mudah dipraktekkan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengarkan perdebatan siapa salah – mana benar. Demikian sibuknya dengan itu, kita menjadi malas berkarya. Alih-alih memperbaiki yang sudah ada, kritik-kritik kita, mungkin tanpa sadar, justru bertujuan mencari popularitas. Agaknya, kearifan kita mulai menjadi taruhan karenanya, merosot :  Menjadi tampak baik karena berhasil menunjukkan kejelekan orang. Na’udzubillaahi mindzalik!

Saya pernah punya seorang atasan yang menerima kiriman segepok cetakan sebuah slide dari atasannya. Isinya sebuah petunjuk ringkas tentang manajemen, yang beliau, atasan saya itu, sudah kenyang akan hal demikian. Lalu, ada atasannya yang lain lagi melihat dokumen itu. Setelah selintas membaca, dia bersungut dan mencibir,” Begini saja kok dikirim jauh-jauh. Semua juga sudah tahu!” Atasan saya diam saja. Setelah atasan yang tadi pergi, atasan saya berkata pada saya,”Meski sederhana begini, ini kan sebuah karya! Tidak semua orang sempat dan bersedia meluangkan waktu seperti ini…!”

Saya tersenyum dalam hati seraya ingin mengatakan bahwa kalimat itu tepatnya untuk atasan yang ngedumel tadi. Akan tetapi, tentu bukan hal mudah baginya mendebat langsung.

Saya merasa mendapat pelajaran dari hal itu. Antara lain :

  1. Bahwa setiap karya itu layak dihargai. Baik itu berbentuk tulisan, ucapan/nasehat, kegiatan, fisik maupun intangible.
  2. Bahwa ‘mengejek’ sebuah karya positif itu tidak mendatangkan kebaikan, akan tetapi justru menjadi point negatif. Kontra produktif, lah!
  3. Sebaliknya, mengapresiasi sebuah karya, sesederhana apapun, justru menunjukkan kematangan berpikir.

Tentang hal-hal itu, ada tolok ukur mudah untuk mengetahui diri kita itu seperti apa. Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan pada diri sendiri, misalnya :

  1. Apakah kita tergolong orang baik? (parameternya nilai-nilai yang sudah diajarkan kepada kita).
  2. Apakah anggota keluarga kita merasa nyaman dengan kehadiran kita di dekatnya?
  3. Apakah teman-teman kita tampak gembira bertemu kita?
  4. Apakah kita sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan teman kita? (Dalam berbagai aktivitas, misalnya kepanitiaan suatu acara, dsb).
  5. Misalnya tetangga dan orang sekitar bisa terus terang, kira-kira, apa pendapat mereka tentang kita?
  6. Dll, silahkan dicari sendiri.

jari telunjuk, instropeksiRasulullah mengajarkan kita untuk selalu husnudzon, jaga bicara, jaga tindakan. Sahabat Umar bin Khattab berpesan:

“Hisablah dirimu sebelum dihisab….!”

Kalimat itu ditujukan agar kita waspada dan bersiap diri sebelum menghadapi hisaban Allah. Dalam keseharian. Bisa kita petik pelajaran untuk selalu koreksi diri, ber-muhasabah. Karena, bagaimanapun tak pernah ada manusia yang sempurna. Jangan-jangan, ketika menunjuk satu kesalahan orang, bisa ada tiga kesalahan sebesar itu dalam diri kita. Itulah gurindam yang oleh guru kita diminta menghafalnya.

Wallahu a’lam bisshawab.
(ay)

About Anas Y. Karnain

Wakil Ketua DPW LDII Prov. Sulteng

Leave Your Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.