Home » Hikmah » Nasehat » AL WAZN : DARI SERIBU KE DELAPAN RATUS
alqur'an

AL WAZN : DARI SERIBU KE DELAPAN RATUS

alqur'an Saya menyukai qiraah Imam Al Ghamidi. Suaranya ringan dan menenteramkan. Karena sering menyimaknya, sayapun condong meniru gayanya. Bahkan, rasanya, suara saya sudah mirip Pak Imam ini. Yang kenal saya, insya Allah, akan merasa geli, karena suara saya terlalu falls. Bukan serak-serak basah, tetapi, mungkin, basah-basah serak.

Saat itu musim rambutan. Entah dari mana asalnya, para penjual sudah berderet di sepanjang sisi jalan. Yang tidak manis mereka sebut rambutan biasa, yang manis disebut binjai. Barangkali saja rambutan itu ‘diimpor’ dari Binjai, sebuah kota di Sumatera Utara. Pasal kebenaran asal buah ini  tidak saya ketahui sampai saat ini.

“Yang biasa lima ribu, yang binjai sepuluh,” kata ibu penjualnya. Karena saya mengurangi sebanyak mungkin asupan manis ke dalam tubuh, saya pilih yang pertama. Si ibu menyendok rambutan itu dengan wadah timbangannya. Saya tertegun dengan jarum yang berada di angka satu ons, meski wadah timbangan itu belum duduk di tempatnya. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, buah-buah berbulu itu sudah teronggok di atas timbangan berkapasitas sepuluh kilogram itu. Jarumnya tepat di angka satu kilo.

Dalam perjalanan pulang, saya ingat tentang jarum tadi.
“Buk..,” kataku kepada isteri saya, “jangan dimakan dulu itu rambutan. Kita timbang dulu di rumah.”

timbangan-dudukKami memang mempunyai sebuah timbangan serupa dengan milik penjual buah tadi. Di rumah, rambutan itu segera mendarat pada wadah di atasnya. Jarumnya bergerak dan bergetar di bawah angka 800 gram. Saya tekan-tekan timbangan itu dan jarumnya bergerak ke kanan kiri. Hasilnya tetap. Dia tidak mau berpindah dari angka 800 gram, bahkan kurang sedikit. Apa yang terjadi? Saya mencoba merekonstruksi kemungkinannya.

timbanganSaya menimbang wadah timbangan duduk di rumah tadi dengan timbangan digital. Beratnya 150 gram. Karena posisi jarum di tempat penjual tadi sudah di angka 100 gram saat tanpa wadahnya, maka dia akan pindah ke angka 250 saat wadah kosongnya dipasang. Ketika rambutan sudah diisikan di sana dan jarum menunjuk ke 1.000 gram, itu berarti berat rambutannya hanya 750 gram. Tenyata 800? Mungkin berat wadah timbangannya penjual itu hanya 100 gram, dan tidak 150 seperti yang saya punya. Asumsinya, timbangan saya berkapasitas 15 kg dengan wadah lebih besar.

Berarti minus puluh persen. Saya ber-husnudzon, insya Allah, penjualnya tidak sengaja.

Kasus kedua terjadi dengan buah jeruk di pasar. Saya kembali mengamati timbangannya. Kapasitasnya juga 10 kg. Di sini, jarum menunjuk di angka nol saat wadah tidak terpasang. Saya tiba-tiba suudzon,” Nanti kurang satu ons, nih…”

“Krrr…” per timbangan turut berbunyi. Angkanya berhenti di sekitar 1.100 gram. Tanpa basa basi lagi, penjual itu memasukkan buah-buah hijau itu ke kantung plastik dan menyerahkannya ke saya. Setengah detik kemudian dia sudah melayani pembeli lain. Di rumah? Ternyata pas sekilo. Artinya, si penjual jeruk tidak mencurangi saya, akan tetapi timbangannya berpotensi menimbulkan kekeliruan.

Kasus ketiga, kacang tanah. Jarum di angka nol meskipun wadah kosongnya nangkring di atasnya. Kacang diisikan hingga 1.000 gram, dibungkus, bawa pulang. Di rumah, beratnya hanya 900-an. Saya tekor lagi, satu ons.

Saya pernah berpikir timbangan saya yang bermasalah. Bisa jadi. Akan tetapi, saya sudah beberapa kali mengujinya dengan belanjaan kemasan pabrik seperti terigu, gula, dan sebagainya. Semua cocok-cokk!

Berarti, kemungkinannya, diduga, memang ada ketidakbenaran dalam timbangan beberapa oknum pedagang. Saya tidak hendak melakukan uji terhadap timbangan para pedagang itu. Tidak. Tugas itu menjadi tanggung jawab pemerintah melalui, dulu, Jawatan Metrologi. Diulang : METROLOGI. Bukan METEOROLOGI.

Jawatan ini bertugas, salah satunya,  melakukan tera ulang terhadap semua jenis timbangan. Harapannya, tidak ada kecurangan yang dengan atau tanpa sengaja dilakukan oleh pemilik timbangan. Hasil akhirnya adalah transaksi yang fair dan adil. Akan tetapi, meski hardwarenya sudah bener, sedang si brainwarenya nyimpang, pekerjaan tera ulang tadi bisa kehilangan manfaat.

Ketika qiraah Pak Ghamidi sampai pada Surah Al Muthaffifiin, saya teringat kasus-kasus di atas. Sudah jauh-jauh hari Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak berlaku curang dalam menimbang atau menakar.

“Celakalah (Neraka Wail) bagi orang yang mengurangi. Yaitu, orang-orang yang ketika menakar (bagi dirinya) minta dipenuhi (secara benar), dan ketika menakar atau menimbang untuk orang lain dia mengurangi.” (Q.S. Al Muthaffifiin : 1-3).

Itulah, insya Allah, salah satu alasan mengapa Islam harus tetap didakwahkan. Bahkan justru lebih mendesak kepada kaum muslimin itu sendiri.

Wallaahu a’lam bis shawwab.

Anas Y. Karnain
Wakil Ketua DPW LDII Prov. Sulawesi Tengah

Leave Your Comment